Thursday, August 5, 2010

Protes Ala Rakyat

Entah gejolak apa sekarang yang terjadi sejak reformasi di teriakan dan sekarang masuk ke masa demokrasi masyarakat dengan lantang dan bebas mengeluarkan kata hati mereka bahkan dengan cara yang aneh-aneh atau "nyeleneh". Apakah dengan begini mereka akan di dengar oleh pemerintah????
Kalau dulu yang kita lihat protes dari masyarakat hanya dengan melakukan gerak pantomim di pinggir jalan atau orasi yang tidak begitu jelas dan menghabiskan suara.

Salah satu contoh yang dapat kita lihat dari Prote Ala rakyat yang "nyeleneh":


1.Warga Protes Penggusuran dengan menguburkan Diri
 
WARGA Rawa-kebo, Jalan Rawasari Selatan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, belum berhenti befdemo. Pekan lalu mereka mendatangi Balai Kota dan secara simbolis menyatakan perlawanan dengan memotong bebek.
Kemarin, enam warga menggelar aksi lanjutan dengan mengubur diri hingga batas leher. Keenam peserta tersebut adalah Dyatmo Suminto, Firzen Saleh, Salmah, Suher-man, Paidi, dan Dadang Su-kanta. Di antara demonstran terdapat penggiat Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera).-
Mereka bersikukuh tetap bertahan di tanah seluas 1.400 meter persegi yang diklaim Pemprov DKI sebagai milik Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Pemprov DKI berencana membangun Gedung Pengadilan Agama Negeri Jakarta Pusat di lokasi tersebut.
"Presiden kita peduli pada video porno. Tapi dia tidak peduli sama hak rakyat atas tanah tempat tinggal," teriak aktivis Bendera, Habib Muhammad Yaser di lokasi.

2.Aksi Nyaris Bugil Di Gedung DPR 
  
Yang ini lain lagi. Seorang laki-laki nekat melucuti seluruh pakaiannya di Gedung Dewan, tepatnya di depan lift menuju ruang kerja pimpinan DPR. Alasan pria bernama Henri bin Siahbudi ini sederhana saja. Ia mempertanyakan gaji ke-13 guru di Ogan Ilir, Sumatera Selatan yang tak kunjung cair.Menurut Henri dalam tayangan Barometer, Rabu (4/8), ia merasa capek setelah tiga hari berada di Jakarta. Henri berada di Ibu Kota untuk menyampaikan surat tuntutan pembayaran gaji ke-13 seluruh PNS di Kabupaten Ogan Ilir, Palembang, Sumatra Selatan. Surat itu tadinya akan diberikan kepada Presiden, KPK, Mendagri dan DPR. "Tapi jadi jengkel karena pengaduan saya tak ditanggapi," katanya

3. berjalan kaki selama 22 hari agar bisa bertemu Presiden

Keluhan serupa juga dilontarkan Indra Azwan. Pria asal Malang, Jawa Timur ini, nekat berjalan kaki ke Jakarta untuk memperjuangkan kasus anaknya yang tewas 15 tahun lalu karena ditabrak polisi. Indra mengeluh semua tuntutannya termasuk mogok makan selama sepekan tidak pernah diperhatikan. Terkait dengan aksinya itu, Indra hanya berharap keadilan bisa berlaku bagi semua orang, bukan hanya yang berduit saja.

Indra sempat dijanjikan staf khusus Presiden Denny Indrayana, akan dipertemukan dengan Kepala Negara. "Jika ini tak terlaksana, saya akan balik ke Malang dengan berjalan kaki," katanya. Selain itu, sebagai ungkapan kekecewaan Indra akan bungkam dan hanya berbicara di depan kebun binatang.



4. Aksi coret gedung DPR RI


Sementara itu, aktor kawakan Pong Hardjatmo, mengatakan bahwa tindakannya mencorat-coret di atap gedung DPR juga merupakan bentuk protes. Para pemimpin, bukan hanya DPR, harus berbuat jujur, adil, dan tegas. Namun, kenyataannya banyak aspirasi masyarakat yang tak didengar. "Aksi saya banyak mendapat dukungan," kata Pong.



Aksi Pong memanjat naik ke atap gedung DPR RI Senayan dan menuliskan tiga kata itu merupakan fenomena komunikasi di mana Pong ingin menyampaikan pesan-pesan yang menyangkut “Jujur-Adil-Tegas” kepada publik dengan menggunaakan medium atap gedung DPR RI Senayan.Namun karena lokasi medium yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut adalah atap Gedung DPR RI Senayan, maka jelas bahwa pesan itu dialamatkan untuk para anggota DPR (dan Dewan Perwakilan Daerah/DPD juga).



Menanggapi aksi nyeleneh itu, Wakil Ketua DPR Pramono Anung berpendapat bahwa hal itu menunjukan ada kegelisahan di masyarakat yang tak bisa tertampung pemerintah. Dengan begitu aspirasinya bisa disalurkan dengan cara apa saja. "Peristiwa itu seharusnya tidak perlu terjadi," kata Pramono.

Pramono mengakui saat ini ada anggota Dewan yang hanya asyik memikirkan diri sendiri. Semestinya DPR terbuka bagi siapa saja yang akan menyalurkan aspirasinya. Karena itu Pramono memberikan apresiasi kepada mereka yang telah melakukan aksi tersebut. "DPR juga harus dikritik," katanya.

Sedangkan pengamat sosial Komarudin Hidayat menilai aksi tersebut merupakan perwujudan harapan masyarakat yang tak kunjung tiba. Ada kesan berbagai persoalan yang terjadi seperti tak pernah dituntaskan. "Saya khawatir ke depan ada lagi protes masyarakat yang lebih kreatif," kata Komarudin


 





6 comments:

Sang Cerpenis bercerita said...

miris membacanya ya..duuh

Justmeilani said...

ya sist,..berbagai cara di tempuh hanya utk di dengar,,.

My Islam said...

astagfirllah..antara rakyat dan pemerintah sama bandelnya.Sungguh mengiris hati sekali..

Justmeilani said...

ya sist,..

Indahnya Kebersamaan said...

Klo cara orang ge buat didengar gimana sob?? Ada nggak?

Elsa said...

pasti ke depan memang harus ada cara lain yang lebih aneh dan lebih kreatif

karena cara cara di atas gak ada respon positifnya sih di mata pemeirntah